Bersyukurlah saya karena dipercaya mendesain lagi rumah seorang bidan di daerah perkampungan yang mayoritas penduduknya adalah petani.Seorang bidan dan suami pengusaha perdagangan hasil bumi mempunyai 2 orang anak putra-putri yang mulai beranjak remaja, dari masing-masing anggota keluarga mempunyai keinginan berbeda tentang hunian yang akan ditinggalinya.
Dari hasil berdiskusi dengan pemilik proyek, program ruang yang diingikan adalah sebagai berikut :
-Ruang Tidur Utama+KM/WC
-Ruang Tidur Anak 2 Ruang
-Ruang Tidur Tamu
-Ruang Makan/Ruang Keluaraga
-Ruang Tamu
-Ruang Tidur Pembantu
-Dapur
-KM/WC
-Garasi
-Carport
-Taman+Pond
-Ruang Praktek (Optional)
Dengan luas tanah kurang 300 m2 program tersebut akhirnya dapat disimpulkan dan diapplikasikan dalam desain seperti di bawah ini:
-Ruang Tidur Utama+KM/WC

-Ruang Tidur Anak 2 Ruang
-Ruang Tidur Tamu
-Ruang Makan/Ruang Keluaraga
-Ruang Tamu
-Ruang Tidur Pembantu
-Dapur
-KM/WC
-Garasi
-Carport
-Taman+Pond
-Ruang Praktek (Optional)
Dengan luas tanah kurang 300 m2 program tersebut akhirnya dapat disimpulkan dan diapplikasikan dalam desain seperti di bawah ini:

Pembagian atara zona privat, zona publik dan service sebagai salah satu upaya untuk mengelola sirkulasi ruang, agar tidak terjadi cross-circulation.
Bukaan-bukaan yang tinggi dan lebar pada jendela-pintu untuk mengoptimalkan sirkulasi udara dalam ruang, sehingga suhu ruangan dapat terkendali.Permainan bidang pada tampak bangunan sebagai salah satu cara agar bentuk bangunan lebih dinamis, aktraktif dan tidak monoton.
Atap pelana kemiringan 45 derajat dengan material genting yang diproduksi oleh penduduk setempat sebagai respon terhadap pengaruh iklim tropis setempat sehingga membantu mengalirkan air hujan lebih cepat, juga sebagai bentuk kepedulian terhadap penggunaan bahan produksi lokal dan memberdayakan masyarakat dekat lokasi proyek.

Setelah makan siang dan minum bandrek khas Ciwidey kami pun berangkat dengan menggunakan dua unit kendaraan jenis Landrover menuju Situ Patengan dengan melalui jalan sekitar kebun teh layaknya offroad, sepanjang jalan terlihat pemandangan 
Kang Yudi (orang bilang Doyok) salah satu crew dari South Links memandu kami dan mengajak kami untuk mengikuti flying fox punya anak-anak dari Wana Reksa (Pecinta Alam Ciwidey). Hanya 3 orang dari kami yang berani mengikuti game ini, salah seorang dari 3 ini gemetaran dan tidak mau meluncur, tapi setelah dibujuk dan melihat lagi peserta lain meluncur 2 kali, akhirnya meluncur juga walau dengan style seat (duduk). Setelah itu kami melaju lagi dengan Landrover menuju pemandian Rancabali, dengan air hangat yang mengandung belerang kamipun berenang, terasa segar dibadan.







yang kami tuju disana terletak tempat tinggal dan makamnya Boscha (seorang ahli astronomi pendiri ITB) setelah melihat rumah dan makamnya Boscha kami pun sempat berfoto-foto, kami melanjutkan perjalanan menuju terminal Pangalengan dimana mobil jemputan menuju Jakarta menunggu.



